Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Article. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Oktober 2008

Hakekat Guru Dan Murid dalam Sandiwara Kehidupan

Hakekat Guru Dan Murid dalam Sandiwara Kehidupan

Terasa jengah dan lucu ketika terdengar sebutan – panggilan .. GURU ..SUHU .. wueh, serasa geli dan mual jika fitnah itu tertuju kepadaku .. hehehhe

Monggo kita sedikit menyimak hakekat peran dalam dagelan - sandiwara di kehidupan ini.
Kali ini kita menyorot peran guru dan murid, yang setiap saat menjadi peran kita di kehidupan ini, formil atau non formil.

Hakekat GURU sebenarnya kedudukan itu tidak absolute, berbeda dengan sekedar gelar atau julukan atau symbol komunikasi.

Pada saat kita berdiri didepan di kelas sebagai pengajar - sebagai Guru, hakekatnya pengajaran itu tertuju ke diri-sendiri, manfaat itu lebih besar sejujurnya untuk diri sendiri.

Hakekat Guru sebagai Murid, hakekat guru menjadi murid dengan berguru kepada murid. Hakekat murid sebgai Guru, hakekat menjadi murid untuk mengajari yang sedang berperan sebagai Guru.
Peran di lekatkan dalam dagelan - sandiwara kehidupan.

Di sebuah kelas pelatihan dengan Trainer yang sangat tersohor, ada seorang Tono hadir sebagai peserta, dengan berbagai alasan dia hanya duduk diam tanpa expresi sepanjang pelatihan pagi itu.

Sang Trainer sibuk bertanya-tanya, kenapa joke yang dia lempar terasa garing bagi si Tono, kenapa dia hanya diam tanpa bertanya, tidak menunjukkan ekspresi tertarik, tidak menunjukkan mengerti atau belum, dsb.

Hal ini meresahkan sang Trainer, keangkuhannya sebagai trainer ternama menjadi tercabik-cabik. Berbagai jurus dia keluarkan, hanya sekedar merubah ekspresi dan membuka mulut si Tono yang tak kunjung tiba.

Saat istirahat siang, dia tidak makan, dia berpikir keras, buka primbon, call friend, .. membuka kitab kuning, diary .. and so on .. and so on .. Tanpa terasa mengalir dengan deras pembelajaran-pembelajaran dia dapatkan siang itu, memory-memori lama .. sharing dari teman, dari internet, dari buka kitab-kitab sakti ..

Selesai istirahat dengan gagahnya dia melangkah menuju medan pertempurannya .. pertempuran dengan egonya .. mengalahkan kediaman si Tono.
Brak .. pintu kelas dia tendang .. loncatan salto ke panggung sandiwara tuk memulai dagelan kehidupan.

Dia dengan pongahnya bak Mahaguru dari khayangan menyapu ruangan, mencari dimana si Tono berada .. waks .. nggak ketemu .. walah.. mana nih ..

Dia tidak perduli dengan peserta yang lain .. si Tono .. Tono .. dimana kau .. dimana kau yang sudah menghancurkan harga-diriku .. dimana kau yang memaksa aku untuk berjibaku pagi tadi, yang membuatku berpikir keras - menggali – mencari – menciptakan variasi jurus-jurus yang ampuh ..

Lemas sekali dia tidak bisa menemukan si Tono .. aku butuh dia, aku butuh dia untuk menaikkan egoku kembali .. aku butuh dia untuk membuka mataku .. aku butuh dia tuk mengasah ilmuku .. aku butuh kehadirannya .. aku butuh pengakuannya .. aku butuh dia tuk selalu belajar hal-hal baru …

Si Trainer ngumpat dalam hati, sialan aku dipaksa untuk belajar oleh si Tono .. tapi akhirnya diapun dipahamkan, .. oohhhh,.. si Tono mengingatkanku bahwa aku sedang belajar dengan mengajar .. sejatinya para murid itulah guru-ku, yang membuat aku semakin baik .. semakin baik ..

Tiada seorangpun dikelas itu yang mengenal si Tono .. siapa gerangan Tono .. Sang MahaGuru .. yang hadir mengajar dengan diam belajar .. menjadi murid untuk sebagai guru.

Aku butuh murid-muridku .. aku membutuhkan mereka agar aku bisa mengajar dan sekalian belajar untuk bisa mengajar dengan baik .. aku butuh muridku sebagai guru-ku, guru dikehidupan.

Disebuah pojokan jalan, terlihat si Tono sedang ngopi dengan kaki nangkring diatas kursi … wajahnya terlihat sangat bersyukur .. sambil dia teringat kejadian pagi tadi .. sialan tuh orang, akulagi lewat mau ambil gelas minuman di tarik disuruh duduk di kelas .. wuuehhh, omong apaaan nggak ngerti blas .. yang jelas daganganku nggak laku pagi tadi .. rugi berat .. makanya aku cepat kabur jauh nggak mau jualan di sana.

Salam Bahagia selalu,


Alfriz Hendrawan

Rabu, 15 Oktober 2008

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi

Kalau Langit Masih Kurang Tinggi
Oleh: Dahlan Iskan

Meski saya bukan ekonom, banyak pembaca tetap minta saya "menceritakan"
secara awam mengenai hebatnya krisis keuangan di AS saat ini. Seperti juga,
banyak pembaca tetap bertanya tentang sakit liver, meski mereka tahu saya
bukan dokter. Saya coba:

Semua perusahaan yang sudah go public lebih dituntut untuk terus berkembang
di semua sektor. Terutama labanya. Kalau bisa, laba sebuah perusahaan publik
terus meningkat sampai 20 persen setiap tahun. Soal caranya bagaimana, itu
urusan kiat para CEO dan direkturnya.

Pemilik perusahaan itu (para pemilik saham) biasanya sudah tidak mau tahu
lagi apa dan bagaimana perusahaan tersebut dijalankan. Yang mereka mau tahu
adalah dua hal yang terpenting saja: harga sahamnya harus terus naik dan
labanya harus terus meningkat.


Perusahaan publik di AS biasanya dimiliki ribuan atau ratusan ribu orang,
sehingga mereka tidak peduli lagi dengan tetek-bengek perusahaan mereka.

Mengapa mereka menginginkan harga saham harus terus naik? Agar kalau para
pemilik saham itu ingin menjual saham, bisa dapat harga lebih tinggi
dibanding waktu mereka beli dulu: untung.

Mengapa laba juga harus terus naik? Agar, kalau mereka tidak ingin jual
saham, setiap tahun mereka bisa dapat pembagian laba (dividen) yang kian
banyak.

Soal cara bagaimana agar keinginan dua hal itu bisa terlaksana dengan baik,
terserah pada CEO-nya. Mau pakai cara kucing hitam atau cara kucing putih,
terserah saja. Sudah ada hukum yang mengawasi cara kerja para CEO tersebut:
hukum perusahaan, hukum pasar modal, hukum pajak, hukum perburuhan, dan
seterusnya.

Apakah para CEO yang harus selalu memikirkan dua hal itu merasa tertekan dan
stres setiap hari? Bukankah sebuah perusahaan kadang bisa untung, tapi
kadang bisa rugi?

Anehnya, para CEO belum tentu merasa terus-menerus diuber target. Tanpa
disuruh pun para CEO sendiri memang juga menginginkannya. Mengapa? Pertama,
agar dia tidak terancam kehilangan jabatan CEO. Kedua, agar dia mendapat
bonus superbesar yang biasanya dihitung sekian persen dari laba dan
pertumbuhan yang dicapai. Gaji dan bonus yang diterima para CEO perusahaan
besar di AS bisa 100 kali lebih besar dari gaji Presiden George Bush. Mana
bisa dengan gaji sebesar itu masih stres?

Keinginan pemegang saham dan keinginan para CEO dengan demikian seperti
tumbu ketemu tutup: klop. Maka, semua perusahaan dipaksa untuk terus-menerus
berkembang dan membesar. Kalau tidak ada jalan, harus dicarikan jalan lain.
Kalau jalan lain tidak ditemukan, bikin jalan baru. Kalau bikin jalan baru
ternyata sulit, ambil saja jalannya orang lain. Kalau tidak boleh diambil?
Beli! Kalau tidak dijual? Beli dengan cara yang licik -dan kasar! Istilah
populernya hostile take over.

Kalau masih tidak bisa juga, masih ada jalan aneh: minta politisi untuk
bikinkan berbagai peraturan yang memungkinkan perusahaan bisa mendapat
jalan.

Kalau perusahaan terus berkembang, semua orang happy. CEO dan para
direkturnya happy karena dapat bonus yang mencapai Rp 500 miliar setahun.
Para pemilik saham juga happy karena kekayaannya terus naik. Pemerintah
happy karena penerimaan pajak yang terus membesar. Politisi happy karena
dapat dukungan atau sumber dana.

Dengan gambaran seperti itulah ekonomi AS berkembang pesat dan kesejahteraan
rakyatnya meningkat. Semua orang lantas mampu membeli kebutuhan hidupnya.
Kulkas, TV, mobil, dan rumah laku dengan kerasnya. Semakin banyak yang bisa
membeli barang, ekonomi semakin maju lagi.

Karena itu, AS perlu banyak sekali barang. Barang apa saja. Kalau tidak bisa
bikin sendiri, datangkan saja dari Tiongkok atau Indonesia atau negara
lainnya. Itulah yang membuat Tiongkok bisa menjual barang apa saja ke AS
yang bisa membuat Tiongkok punya cadangan devisa terbesar di dunia: USD 2
triliun!

Sudah lebih dari 60 tahun cara "membesarkan" perusahaan seperti itu
dilakukan di AS dengan suksesnya. Itulah bagian dari ekonomi kapitalis. AS
dengan kemakmuran dan kekuatan ekonominya lalu menjadi penguasa dunia.

Tapi, itu belum cukup.
Yang makmur harus terus lebih makmur. Punya toilet otomatis dianggap tidak
cukup lagi: harus computerized!

Bonus yang sudah amat besar masih kurang besar. Laba yang terus meningkat
harus terus mengejar langit. Ukuran perusahaan yang sudah sebesar gajah
harus dibikin lebih jumbo. Langit, gajah, jumbo juga belum cukup.

Ketika semua orang sudah mampu beli rumah, mestinya tidak ada lagi
perusahaan yang jual rumah. Tapi, karena perusahaan harus terus meningkat,
dicarilah jalan agar penjualan rumah tetap bisa dilakukan dalam jumlah yang
kian banyak. Kalau orangnya sudah punya rumah, harus diciptakan agar kucing
atau anjingnya juga punya rumah. Demikian juga mobilnya.

Tapi, ketika anjingnya pun sudah punya rumah, siapa pula yang akan beli
rumah?

Kalau tidak ada lagi yang beli rumah, bagaimana perusahaan bisa lebih besar?
Bagaimana perusahaan penjamin bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan
alat-alat bangunan bisa lebih besar? Bagaimana bank bisa lebih besar?
Bagaimana notaris bisa lebih besar? Bagaimana perusahaan penjual kloset bisa
lebih besar? Padahal, doktrinnya, semua perusahaan harus semakin besar?

Ada jalan baru. Pemerintah AS-lah yang membuat jalan baru itu. Pada 1980,
pemerintah bikin keputusan yang disebut "Deregulasi Kontrol Moneter".
Intinya, dalam hal kredit rumah, perusahaan realestat diperbolehkan
menggunakan variabel bunga. Maksudnya: boleh mengenakan bunga tambahan dari
bunga yang sudah ditetapkan secara pasti. Peraturan baru itu berlaku dua
tahun kemudian.

Inilah peluang besar bagi banyak sektor usaha: realestat, perbankan,
asuransi, broker, underwriter, dan seterusnya. Peluang itulah yang
dimanfaatkan perbankan secara nyata.

Begini ceritanya:
Sejak sebelum 1925, di AS sudah ada UU Mortgage. Yakni, semacam
undang-undang kredit pemilikan rumah (KPR). Semua warga AS, asalkan memenuhi
syarat tertentu, bisa mendapat mortgage (anggap saja seperti KPR, meski
tidak sama).

Misalnya, kalau gaji seseorang sudah Rp 100 juta setahun, boleh ambil
mortgage untuk beli rumah seharga Rp 250 juta. Cicilan bulanannya ringan
karena mortgage itu berjangka 30 tahun dengan bunga 6 persen setahun.

Negara-negara maju, termasuk Singapura, umumnya punya UU Mortgage. Yang
terbaru adalah UU Mortgage di Dubai. Sejak itu, penjualan properti di Dubai
naik 55 persen. UU Mortgage tersebut sangat ketat dalam menetapkan syarat
orang yang bisa mendapat mortgage.

Dengan keluarnya "jalan baru" pada 1980 itu, terbuka peluang untuk menaikkan
bunga. Bisnis yang terkait dengan perumahan kembali hidup. Bank bisa dapat
peluang bunga tambahan. Bank menjadi lebih agresif. Juga para broker dan
bisnis lain yang terkait.

Tapi, karena semua orang sudah punya rumah, tetap saja ada hambatan. Maka,
ada lagi "jalan baru" yang dibuat pemerintah enam tahun kemudian. Yakni,
tahun 1986.

Pada 1986 itu, pemerintah menetapkan reformasi pajak. Salah satu isinya:
pembeli rumah diberi keringanan pajak. Keringanan itu juga berlaku bagi
pembelian rumah satu lagi. Artinya, meski sudah punya rumah, kalau mau beli
rumah satu lagi, masih bisa dimasukkan dalam fasilitas itu.

Di negara-negara maju, sebuah keringanan pajak mendapat sambutan yang luar
biasa. Di sana pajak memang sangat tinggi. Bahkan, seperti di Swedia atau
Denmark, gaji seseorang dipajaki sampai 50 persen. Imbalannya, semua
keperluan hidup seperti sekolah dan pengobatan gratis. Hari tua juga
terjamin.

Dengan adanya fasilitas pajak itu, gairah bisnis rumah meningkat drastis
menjelang 1990. Dan terus melejit selama 12 tahun berikutnya. Kredit yang
disebut mortgage yang biasanya hanya USD 150 miliar setahun langsung menjadi
dua kali lipat pada tahun berikutnya. Tahun-tahun berikutnya terus meningkat
lagi. Pada 2004 mencapai hampir USD 700 miliar setahun.

Kata "mortgage" berasal dari istilah hukum dalam bahasa Prancis. Artinya:
matinya sebuah ikrar. Itu agak berbeda dari kredit rumah. Dalam mortgage,
Anda mendapat kredit. Lalu, Anda memiliki rumah. Rumah itu Anda serahkan
kepada pihak yang memberi kredit. Anda boleh menempatinya selama cicilan
Anda belum lunas.

Karena rumah itu bukan milik Anda, begitu pembayaran mortgage macet, rumah
itu otomatis tidak bisa Anda tempati. Sejak awal ada ikrar bahwa itu bukan
rumah Anda. Atau belum. Maka, ketika Anda tidak membayar cicilan, ikrar itu
dianggap mati. Dengan demikian, Anda harus langsung pergi dari rumah
tersebut.

Lalu, apa hubungannya dengan bangkrutnya investment banking seperti Lehman
Brothers?

Gairah bisnis rumah yang luar biasa pada 1990-2004 itu bukan hanya karena
fasilitas pajak tersebut. Fasilitas itu telah dilihat oleh "para pelaku
bisnis keuangan" sebagai peluang untuk membesarkan perusahaan dan
meningkatkan laba.

Warga terus dirangsang dengan berbagai iklan dan berbagai fasilitas
mortgage. Jor-joran memberi kredit bertemu dengan jor-joran membeli rumah.
Harga rumah dan tanah naik terus melebihi bunga bank.

Akibatnya, yang pintar bukan hanya orang-orang bank, tapi juga para pemilik
rumah. Yang rumahnya sudah lunas, di-mortgage- kan lagi untuk membeli rumah
berikutnya. Yang belum memenuhi syarat beli rumah pun bisa mendapatkan
kredit dengan harapan toh harga rumahnya terus naik. Kalau toh suatu saat
ada yang tidak bisa bayar, bank masih untung. Jadi, tidak ada kata takut
dalam memberi kredit rumah.

Tapi, bank tentu punya batasan yang ketat sebagaimana diatur dalam
undang-undang perbankan yang keras.

Sekali lagi, bagi orang bisnis, selalu ada jalan.
Jalan baru itu adalah ini: bank bisa bekerja sama dengan "bank jenis lain"
yang disebut investment banking.

Apakah investment banking itu bank?
Bukan. Ia perusahaan keuangan yang "hanya mirip" bank. Ia lebih bebas
daripada bank. Ia tidak terikat peraturan bank. Bisa berbuat banyak hal:
menerima macam-macam "deposito" dari para pemilik uang, meminjamkan uang,
meminjam uang, membeli perusahaan, membeli saham, menjadi penjamin, membeli
rumah, menjual rumah, private placeman, dan apa pun yang orang bisa lakukan.
Bahkan, bisa melakukan apa yang orang tidak pernah memikirkan! Lehman
Brothers, Bear Stern, dan banyak lagi adalah jenis investment banking itu.

Dengan kebebasannya tersebut, ia bisa lebih agresif. Bisa memberi pinjaman
tanpa ketentuan pembatasan apa pun. Bisa membeli perusahaan dan menjualnya
kapan saja. Kalau uangnya tidak cukup, ia bisa pinjam kepada siapa saja:
kepada bank lain atau kepada sesama investment banking. Atau, juga kepada
orang-orang kaya yang punya banyak uang dengan istilah "personal banking".

Saya sering kedatangan orang dari investment banking seperti itu yang
menawarkan banyak fasilitas. Kalau saya mau menempatkan dana di sana, saya dapat bunga lebih baik dengan hitungan yang rumit. Biasanya saya tidak
sanggup mengikuti hitung-hitungan yang canggih itu.

Saya orang yang berpikiran sederhana. Biasanya tamu-tamu seperti itu saya
serahkan ke Dirut Jawa Pos Wenny Ratna Dewi. Yang kalau menghitung angka
lebih cepat dari kalkulator. Kini saya tahu, pada dasarnya dia tidak
menawarkan fasilitas, tapi cari pinjaman untuk memutar cash-flow.

Begitu agresifnya para investment banking itu, sehingga kalau dulu hanya
orang yang memenuhi syarat (prime) yang bisa dapat mortgage, yang kurang
memenuhi syarat pun (sub-prime) dirangsang untuk minta mortgage.

Di AS, setiap orang punya rating. Tinggi rendahnya rating ditentukan oleh
besar kecilnya penghasilan dan boros-tidaknya gaya hidup seseorang. Orang
yang disebut prime adalah yang ratingnya 600 ke atas. Setiap tahun orang
bisa memperkirakan sendiri, ratingnya naik atau turun.

Kalau sudah mencapai 600, dia sudah boleh bercita-cita punya rumah lewat
mortgage. Kalau belum 600, dia harus berusaha mencapai 600. Bisa dengan
terus bekerja keras agar gajinya naik atau terus melakukan penghematan
pengeluaran.

Tapi, karena perusahaan harus semakin besar dan laba harus kian tinggi,
pasar pun digelembungkan. Orang yang ratingnya baru 500 sudah ditawari
mortgage. Toh kalau gagal bayar, rumah itu bisa disita. Setelah disita, bisa
dijual dengan harga yang lebih tinggi dari nilai pinjaman. Tidak pernah
dipikirkan jangka panjangnya.

Jangka panjang itu ternyata tidak terlalu panjang. Dalam waktu kurang dari
10 tahun, kegagalan bayar mortgage langsung melejit. Rumah yang disita
sangat banyak. Rumah yang dijual kian bertambah. Kian banyak orang yang jual
rumah, kian turun harganya. Kian turun harga, berarti nilai jaminan rumah
itu kian tidak cocok dengan nilai pinjaman. Itu berarti kian banyak yang
gagal bayar.

Bank atau investment banking yang memberi pinjaman telah pula menjaminkan
rumah-rumah itu kepada bank atau investment banking yang lain. Yang lain itu
menjaminkan ke yang lain lagi. Yang lain lagi itu menjaminkan ke yang
beriktunya lagi. Satu ambruk, membuat yang lain ambruk. Seperti kartu domino
yang didirikan berjajar. Satu roboh menimpa kartu lain. Roboh semua.

Berapa ratus ribu atau juta rumah yang termasuk dalam mortgage itu? Belum
ada data. Yang ada baru nilai uangnya. Kira-kira mencapai 5 triliun dolar.
Jadi, kalau Presiden Bush merencanakan menyuntik dana APBN USD 700 miliar,
memang perlu dipertanyakan: kalau ternyata dana itu tidak menyelesaikan
masalah, apa harus menambah USD 700 miliar lagi? Lalu, USD 700 miliar lagi?

Itulah yang ditanyakan anggota AS sekarang, sehingga belum mau
menyetujui rencana pemerintah tersebut. Padahal, jumlah suntikan sebanyak
USD 700 miliar itu sudah sama dengan pendapatan seluruh bangsa dan negara
Indonesia dijadikan satu.

Jadi, kita masih harus menunggu apa yang akan dilakukan pemerintah dan
rakyat AS. Kita juga masih menunggu data berapa banyak perusahaan dan orang
Indonesia yang "menabung"-kan uangnya di lembaga-lembaga investment banking
yang kini lagi pada kesulitan itu.

Sebesar tabungan itulah Indonesia akan terseret ke dalamnya. Rasanya tidak
banyak, sehingga pengaruhnya tidak akan sebesar pengaruhnya pada Singapura,
Hongkong, atau Tiongkok.

Singapura dan Hongkong terpengaruh besar karena dua negara itu menjadi salah
satu pusat beroperasinya raksasa-raksasa keuangan dunia. Sedangkan Tiongkok
akan terpengaruh karena daya beli rakyat AS akan sangat menurun, yang
berarti banyak barang buatan Tiongkok yang tidak bisa dikirim secara
besar-besaran ke sana. Kita, setidaknya, masih bisa menanam jagung.(*)


Minggu, 12 Oktober 2008

Badrun Menalar Ajaran Sang Guru dengan VAKOG

Ahhh.. kenapa aku - Badrun masih belum mudeng juga .. kok bisa ? kok bisa? Kok gitu .. ? Badrun sibuk pijit-pijit kepala .. sudah sebulan Badrun mikir pe-er dari sang guru .. Badrun ditugaskan menalar ajaran sang guru. Disuruh melatih - mengasah SDM, VAKOG.

Itu Pak Guru apa nggak salah .. mana bisa? Nggak masuk akal .. masa ada kentut bau wangi .. ketemu berapa perkara ??? aku udah coba bolak-balik .. masih bau tuh .. malahan tambah pekat en nggliyeng .. gimana maksud melatih dan mengasah VAKOG ???

Masa tingkat spiritual dicirikan sama bau kentut .. haahhhhh, ada-ada saja .. sebenarnya siapa yang bodo yah .. ahhh, aku harus mampu menalar ajaran sang guru, aku harus paham apa itu VAKOG.

Dengan kepala pening dan takut karena belum ketemu jawabannya, Badrun malam itu pukul 12 meluruk kerumah sang Guru yang jauh di pelosok, menembus kabut tebal, dilereng gunung.

Yah, dia harus balik ke sana, setelah sebulan mendapat pe-er dan harus meneruskan pelajarannya. Malu sebenarnya, tapi apa boleh buat, dia ingin segera lulus, ingin sanggup menalar ajaran sang guru.

“ Mbah Muk , saya belum bisa, belum mampu, masih bau ..” dengan polos Badrun melapor.

“Hmmm .. apa pe-er mu ? apa yang masih bau ?”

“ Itu mBah Muk, level ku .. maqomku belum naik”

“ Kok kamu tahu Drun ..?”

“ Njih Mbah Muk, kentutku masih bau ..”

“Apa hubungannya kentutmu sama maqommu ???”

“ Lha ?! mBah Muk kepriben sih, .. kan bulan lalu aku nanya .. kepriben isa ngerti kalau maqomku sudah tinggi, kalau tingkat spiritualitas ku sudah tinggi? “

“ Njenengan bilang, .. cirine kalau kentut sudah wangi”

“Ooooohhhhh … itu toh .. dadi piye, wis ngerti? Sudah tajam VAKOG mu ??? ”

“Urung mbah Muk, sih mambu …” “ wis dicoba segala cara, lha aku temui ahli gizi-pangan, diet makan – eksperimen,.. seh tetep mambu mbah. Ora ngerti opo kuwi hubungan dengan VAKOG”

“Hmmm .. kowe ancene pinter .. terlalu pinter .. makane dadi keminter .. keblinger ..”

??????????? … Badrun tambah pusing .. tambah mikir .. “Jadi gimana mbah Muk biar kentutku wangi ????”

“Dasar cah kakehan mangan sekolahan .. wis kene .. aku turunkan pelajarane ! Amati VAKOG” “Matikan lampu!!!”

Weh, Badrun terlonjak, girang sekali dia, akhirnya yang ditunggu .. nggak salah dia berkorban malam-malam, jauh-jauh .. dalam dinginnya udara menusuk tulang.
Akhirnya dia akan mampu menalar ajaran sang guru, kenal dengan VAKOG.

“ Sini .. mendekat .. tambah dekat .. coba amati VAKOG ne .. tenanan kosentrasi .. tutup mata”

“Jaga-jaga ..visualisasi sing apik-apik .. sing kepenak .. bidadari turun ke mall apa … apa saja terserah “

“Iya mbah .. visualisasi wis mantep .. hhmm penak tenak”

“Oke good cah .. siap yah”

“Buuzzzz ….”

“Auditory udah ketangkep mbah .. “ weh , elmunya sudah datang .. seneng sekali Badrun

“walah .. opo iki mBah. …”

“Opo ..”

“Kie mBah Muk .. KOG-e’ kok bikin merinding .. arep muntah aku”

“ Jan tenanan .. ora tahan aku”

Badrun mikir .. iki mahluk opo seng teko .. busyet ..

“ Tahan apa nggak .. kalau nggak nyerah saja”

“Wah nggak mbah, aku sudah tekad nih .. sudah bulat.. tapi … hhaaaaahhhhh”
Bruuukkk ……….. Badrun semaput.

Si Mbah .. buru-buru ke WC ..

Alfriz Hendrawan

Adakah Hari Esok kan Bersinar ..

Photobucket
Hmmm .. Badrun melamun : adakah hari esok akan bersinar .. akankah mentari pagi dan burung-burung berdansa mesra mengalunkan musik indah .. ditengah desahan nafas yang menyatu dengan sisa-sisa embun pagi ..

Bukankah hari ini mendung begitu gelap pekat .. langit bak murka, gelegar nan memekakkan telingah .. sungguh menakutkan .. sungguh membuat dengkulku bergetar .. membuatku semakin nyaman bergelung diatas dipan yang merintih mau tumbang ..

Adakah hari esok kan bersinar ..

Apakah yang sebenarnya aku nanti .. temanku yang selalu setia membawa info angin surga .. yang membuai .. memabokkan .. menenggelamkan ku kedalam mimpi-mimpi indah .. bak putaw yang membius dan menipu .. indah .. nikmat .. betulkah ???


Ataukah kiriman nasi sisa kondangan dari rumah Pak Lurah, .. wajar, dia kan teman bapak sejak kecil, tumbuh besar bersama, dia jadi Lurah juga atas dukungan bapak yang sudah mendahului ke alam sana.

Wajar bila dia harus balas jasa, .. wajar bila dia mengucapkan rasa syukurnya dengan menolongku .. hhmm .. begitukah ???

Dimanakah kamu wahai temanku .. yang memberikan aku semangat begitu luarbiasa .. semangat .. mimpi-mimpi .. yang mengajariku menorehkan mimpiku dengan tinta emas dan disimpan bak gulungan mantra yang bertuah ..

“lalu gimana?” ..

“ tenang, biarkan lah alam yang memprosesnya”

.. ahhh, sedap nian ..

“lalu aku gimana?” ..

“tenang, nggak usah dipikir gimana-gimana .. proses bukan hal yang perlu diributkan.”

… weh, jan ini yang aku cari .. aku nantikan .. nantikan .. nantikan .. ahh, enaknya bergulat dengan selimut ini, .. tapi cacing dalam perutku mulai menggeliat tidak sabar ..

adakah hari esok kan bersinar ..


Waduh, bunyi apa itu yah .. siapa yang main-main bikin gaduh, .. ehhh, kok gubuk bambuku mulai bergoyang-goyang .. semakin keras .. wuutttt .. grobyak ..

walah angin kencang banget, rumahku udah tumbang beneran,.. dingin, semburan air dan angin yang menggila .. weehhhh .. mana .. mana .. mana janjimu .. wahai alam …mana-mana, mana rasa syukurmu wahai P Lurah .. kenapa kok jadi begini ..

Duaarrr .. petir menghajar dikejauhan .. menghajar Badrun dari mimpinya, .. guyuran air dan kerasnya suara petir membuat Badrun semakin terbangun .. wuuehhh .. inilah alam .. aku bagian dari alam .. aku masih hidup .. aku bagian dari kehidupan .. hidup .. hidup yang sebenarnya .. bukan hidup-hidupan .. Tuhan menyuruh aku hidup.. bergerak .. bergerak dari mimpi .. bergerak setelah mimpi .. bergerak menggapai mimpi .. bergerak .. atau basah kehujanan .. bergerak mencari tempat berteduh yang sesuai kemauan

adakah hari esok kan bersinar ..


Aku.. si Badrun punya mimpi .. Pak Lurah juga punya mimpinya sendiri .. aku bukan P Lurah .. P Lurah bukan aku .. aku hidup .. P Lurah juga hidup untuk kehidupannya .. aku juga harus .. hidup .. mengikuti proses .. di kehidupan ku.

Alfriz Hendrawan

Alkisah Tini dan Karibnya

Alkisah jaman dahulu ada suatu mahluk yang terlahir dengan sempurna, dia punya sifat yang sangat polos, sangat jujur, baik hati. Doi punya teman, yang ingin sekali seperti Tini.

Mereka bersahabat baik, dua sahabat yang mesra banget, bak air laut dengan garamnya, bak ketiak dengan baunya, bak mandi dengan goyangannya , bak artis dengan sensasi .. Si Tini dan karibnya - Tindih

Kemana-mana mereka berdua renteng-renteng barengan, becanda dengan tukang sayur berdua, menggoda cowok lewat juga bersama .. ngutang di Mpok Minah juga kompakan , urusan tipu menipu juga bersama, de el el ..

Si Tini ini sangat sabar mengajari kembar dempetnya si Tindih, mempolesnya agar nggak ndeso , ..nggak katrok,.. dan akhirnya memang bisa terlihat kinclong .. malah seakan lebih bersinar dibanding Tini.

Dan saking lengketnya mereka berdua, saking seringnya mereka tampil bersama , orang-orang mulai sulit membedakan antara mereka berdua, mana si ini , mana si itu ..

Si Tindih mulai sering tampil atas nama si Tini, dan orang-orang pun mulai tidak memasalahkan, mana si ini, mana si itu .. nggak penting lagi dipisahkan, dibedakan ..
Dan semakin lama orang-orang semakin kabur, sudah tidak bisa membedakan si ini dan si itu en .. ndilalah si tindih ini mulai lebih popular di masyarakat ..

Lama-kelamaan Si Tini semakin di pepet .. kepepet .. sekin dijepit dan kejepit .. semakin terpuruk di bawah bayang-bayang si tindih .. dan orang pun semakin terbiasa dengan nya .. karena mereka juga semakin samar mana si Tini mana si Tindih .. dan egp, toh sama saja Tini apa Tindih.
Tini pun mulai pasrah .. yo wissss .. aku juga egp, toh aku tetap hidup, biarpun dibalik topeng.

Dinegri antabarantah .. cerita mengenai mereka berdua sungguh populer mulai dijadikan insipirasi lakon .. dipentaskan .. dan nama mereka pun disamarkan menjadi .. KEBENARAN dan PEMBENARAN.

Dan itu juga menginsipirasi sekumpulan orang aneh, yang kelebihan waktu.. mengutak-atik .. menyelidik seperti conan sang detective .. mana yah si Tini .. dan mana si tindih .. mana KEBENARAN dan mana PEMBENARAN .. mana KEBENARAN yang dianggap PEMBENARAN dan mana si PEMBENARAN yang di anggap KEBENARAN.

Mana yang lebih kita agungkan sehari-hari .. KEBENARAN or PEMBENARAN ..mana yang lebih kita DEWAkan ..mana yang lebih kita percayai ..

Let’s Play The Game !!!

Dan sebagai pengamat kehidupan, saya menangkap kesan si kembar itu sebagai sesuatu yang seharusnya dkomunikasikan dan menjadi prioritas di kehidupan Rumah tangga.
Mari komunikasikan kebenaran dan pembenaran secara bijak dan Legowo.

Think’s for Heaven !!! Life is beautiful ..

Alfriz Hendrawan

Kamis, 09 Oktober 2008

Cinta Kasih & Anak-anak Sekolah

Ketika saya libur kerja dan mengantarkan anak yang masih sekolah TK, senang sekali melihat anak-anak kecil yang sedang bermain, berlarian, berbagi dan berebut mainan, berbagi dan berebut mainan. Tanpa terasa hati ini mengembang dan dipenuhi perasaan senang, bahagia dan cinta kasih. Mungkin rasa itu tertular dari kegembiraan, keceriaan, kepolosan anak-anak itu.

Sungguh sebuah pemandangan yang indah, sungguh sebuah pelajaran yang indah diberikan oleh TUHAN, kenapa begitu?

Saya seperti diingatkan oleh TUHAN, begitulah AKU memandang kalian dalam kehidupan ini.

Meskipun dalam interaksi mereka, para anak-anak itu kadang membuat ada yang menangis karena jatuh, menangis karena berebut mainan, berebut makanan, rasa cinta kasih didada ku saat melihat hal itu sama sekali tidak berkurang.
Tidak ada rasa berkepihakan pada salah satu dari mereka.
Meskipun kadang gemas dengan ulah mereka yang lebih aktif dan kreatif, dalam suasana hati dan kesadaran yang lebih tinggi, sebagai orang tua yang lebih dewasa, lebih berpengalaman, tetap saya merasa bisa melihat itu semua dengan arif, penuh pengertian, penuh cinta kasih.
Meskipun kadang merasa harus ada yang di beritahu, diingatkan, di 'hukum', tetap dalam koridor penuh rasa kasih sayang.

Terlintas dalam benakku, pada saat kita ini bertengkar, berebut, saling tidak mengalah, bagaimanakah Tuhan memandang seluruh rangkaian kejadian itu, dipihak manakah Tuhan akan berpihak? karena kadang aku sering egois, Ya Tuhan, bukankah aku yang benar? tolong balaskan rasa sakit hatiku ini !

Terlintas dalam benakku, bagaimana bila state kesadaran yang lebih tinggi ini saya bawa untuk melihat rangkaian kejadian, baik dimasa lalu maupun sekarang ini.
Melihat rangkaian kejadian itu/ini dengan penuh rasa kebijaksanaan, kedewasaan yang lebih tinggi, rasa kemengertian, rasa cinta kasih.

Ketika kualihkan pandanganku ke jalanan didepan sekolah, melihat para penjaja makanan dengan transaksinya, melihat lalu lalang mobil, calo angkot, dengan mempertahankan state kesadaran yang lebih tinggi, ternyata nikmat sekali.
Wajah kusuh berpeluh, wajah tegang masam, wajah muram, bunyi klakson dan knalpot, ternyata bisa terlihat sebagai rangkaian gambar dan musik yang indah.
Udara yang terhirup bisa semakin segar, panas matahari di kulit serasa menghangatkan jiwa, bangunan dan pepohonan bak lukisan yang tiada tara indahnya, langit yang luas dihiasi awan dan burung, semakin melapangkan hati.

Ahhh, ... tidak peduli dengan definisi, teori yang menyibukkan kepala, hanya nikmati .. rasakan .. dengan kesadaran yang lebih tinggi. Tentunya Tuhan tidak sia-sia menjadikan segenap perkara ini, rangkaian kejadian dan penciptaan alam semesta ini.

Ahhh .. semoga aku semakin bersyukur.

Salam Bahagia,

Alfriz Hendrawan